Rekening Bantuan Rohingya Myanmar 2016

Tragedi Kemanusiaan lebih tepatnya genocida kepada etnis rohingya Myanmar, bahakan dilakukan oleh tentara negara..
3 Desa dibakar,
peduli-rohingya-act2016 peduli-rohingya-act

==

Sejak diterapkannya Operasi Militer di Wilayah Maungdaw, Rakhine, pada 9 Oktober 2016, perkembangan informasi dari hari ke hari tertutup dan cenderung bias. Deputi Head of Office UN-OCHA Myanmar, mengakui sangat sedikit kabar yang bisa diberikan kepada publik mengenai situasi terkini di Maungdaw karena jurnalis dan organisasi kemanusiaan belum diperbolehkan masuk ke “Operation Zone”.

Arakan Rohingya National Organization (ARNO) menyatakan, “Sejak 12 November angkatan bersenjata Myanmar melakukan penyerangan dan tindakan kekerasan terhadap warga Rohingya menggunakan helikopter tempur, tank dan artileri. Ada anggota keluarga ditembak mati. Mereka yang melarikan diri karena ketakutan, dihadang dan dibunuh oleh tembakan senapan mesin di sawah, lembah-lembah dan sungai-sungai.

Human Right Watch (HRW) melalui citra satelit pada tanggal 10-18 November 2016, mendeteksi setidaknya terdapat 820 rumah hangus terbakar di 5 desa etnis Rohingya. Dari 820 bangunan hancur, 255 berada di desa Yae Khat Chaung Gwa Son; 265 di Dar Gyi Zar; 65 di Pwint Hpyu Chaung; 15 di Myaw Taung; dan 220 di Wa Peik (selain 100 yang hancur sebelumnya).

Beberapa data/informasi yang didapatkan tim #SOSRohingya ACT di Myanmar:
1. Diperkirakan sekitar 20.000 – 30.000 etnis Rohingya terkurung (tidak bisa berpindah tempat akibat penghadangan/blokade).
2. Sekitar 150.000 warga mengalami krisis pangan. 3.000 anak-anak diantaranya berada di “Operation Zone” mengalami gizi buruk (30-50% berpotensi alami kematian), 42.000 jiwa (termasuk 37.000 anak-anak) mengalami kekurangan gizi (Moderate Acute Malnutrition/MAM).

Mohon doa tertulus dari Sahabat agar misi kemanusiaan yang diemban Global ACTion Team #SOSRohingya ini bisa berjalan dengan lancar dan dimudahkan segala sesuatunya.

===

lebih mudah lagi salurkan melalui https://kitabisa.com/banturohingya

Atau langsung ke Rekening ACT
Salurkan bantuan terbaik Anda melalui rekening:

BCA676 030 2021Solidaritas Rohingya
Mandiri128 000 4723 620Solidaritas Rohingya
BSM706 854 8181Solidaritas Rohingya
BRI092 401 000018 304Solidaritas Rohingya
BNI014 076 5481Solidaritas Rohingya
BNI Syariah66 00000 120Solidaritas Rohingya
Muamalat304 0031 870Solidaritas Rohingya


Seluruh rekening atas nama Yayasan Aksi Cepat Tanggap
mohon cek kebenaran atas nama rekening.

Setelahnya, disarankan untuk konfirmasi melalui SMS ke 0853-3000-6000, email ke konfirmasi@act.id

Apa yang Bisa Kita Lakukan untuk Rohingya?

Oleh: Herri Cahyadi
Mahasiswa Doktoral Hubungan Internasional, İstanbul Üniversitesi, Turki.
BERAKHIRNYA musim angin Muson di sekitar Laut Andaman menandakan dimulainya gelombang laut yang lebih tenang. Ini diprediksi berpotensi meningkatkan jumlah pengungsi Rohingya yang eksodus dari tanah kelahiran.

Mereka menggunakan perahu-perahu nelayan untuk hengkang lantaran kekejaman yang dilakukan oleh pemerintah Myanmar beserta kelompok teroris lokal. Tentu kita masih ingat, tahun lalu, ribuan—diperkirakan jumlahnya lebih dari 8.000 jiwa—pengungsi Rohingya terdampar di perairan Thailand, Malaysia, dan Indonesia.

Ketiga negara ini sempat menolak serta membiarkan mereka terombang-ambing dan “terpenjara” di lautan. Akhirnya, Indonesia dan Malaysia menerima mereka.

Itu pun setelah dunia internasional mendesak negara-negara ini agar memberikan perlindungan sementara untuk para pengungsi. Ini merupakan krisis pengungsi terburuk setelah Perang Vietnam dan juga disebut sebagai momen paling memalukan bagi negara-negara Asia Tenggara.

Dasar masalah

Permasalahan paling utama adalah krisis rasial yang dialami oleh etnis Rohingya akibat dicabutnya kewarganegaraan mereka pada 1982 oleh junta militer. Junta militer Myanmar hanya mengakui 135 etnis dan tidak mengakui Rohingya sebagai bagian dari warga negara, bahkan menuduh etnis ini sebagai imigran gelap dari Bangladesh.

Semenjak itu, hak-hak dasar etnis Rohingya tercerabut dan kehidupan mereka termarjinalkan. Kondisi ini berlangsung selama tiga dekade, hingga mulai mendapatkan perhatian dunia setelah kerusuhan yang terjadi pada 2012.

Saat itu, kelompok-kelompok teror Buddhist menyerang desa-desa Rohingya dan menyebabkan sedikitnya 200 orang tewas. Belakangan, pimpinan salah satu kelompok teror ini, biksu Ashin Wirathu, menyamakan dirinya sendiri dengan Donald Trump.

Wirathu, seperti kita tahu, juga pernah menjadi cover majalah TIMES edisi Juli 2013 dengan headline “The Face of Buddhist Terror”. Selama kebijakan apartheid ini diberlakukan, akar permasalahan di Arakan tidak akan pernah selesai.

Respons internasional

Lalu, bagaimana respons komunitas internasional terhadap krisis ini? Mungkin sebagian dari kita bertanya kritis di mana peran ASEAN dalam mengatasi krisis kemanusiaan di regional mereka? ASEAN yang berdiri atas tiga pilar utama ini—ekonomi, sosial, dan politik—seolah diam seribu bahasa.

Ini tidak lepas dari prinsip kardinal yang diyakini oleh negara-negara Asean sebagai “The ASEAN Way”: nonintervensi. Kebijakan yang berarti suatu negara tidak boleh mengintervensi urusan dalam negeri negara lain dan menghormati kedaulatan mereka.

Kebijakan ini yang akhirnya menempatkan negara lain tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan sekadar untuk bersuara. Namun, memang justru karena kebijakan inilah regional di Asia Tenggara relatif aman dan jauh dari konflik besar antarnegara semenjak berdiri 1967.

Jamak konflik yang terjadi di ASEAN justru dimediasi oleh organisasi non-ASEAN. Di sinilah letak ambiguitas prinsip nonintervensi dalam kasus krisis kemanusiaan di Myanmar; apakah ASEAN harus turun tangan atau membiarkan pemerintah Myanmar menyelesaikannya sendiri? Atau mengundang organisasi non-ASEAN untuk menjadi mediator?

Diamnya Suu Kyi

Memasuki bulan kedelapan setelah National League for Democracy (NLD) memenangi pemilu demokratis di Myanmar pada November 2015, pemerintahan Aung San Suu Kyi pun mendapatkan banyak kritikan. Kemampuannya dalam membawa hak keadilan bagi etnis minoritas dipertanyakan.

Bahkan, banyak yang menuntut titel pemenang Nobel miliknya agar dicabut. Tentu desakan itu bukan tanpa alasan.

Karena selama ini Suu Kyi dianggap sebagai “juru selamat” yang menjadi ikon kebebasan dan demokrasi. Suu Kyi dan mayoritas politikus di Myanmar tidak ada yang menolak narasi Islamofobia yang dimunculkan oleh kelompok radikal seperti Biksu Wirathu.

Ada tiga alasan mengapa keinginan Suu Kyi untuk memperbaiki kondisi Rohingya dipertanyakan. Pertama, Suu Kyi tidak mengakui terminologi “Rohingya”. Kedua, komentar dia ketika diwawancarai oleh presenter BBC, Mishal Husein, “No-one told me I was going to be interviewed by a Muslim,” menunjukkan pandangan partisan yang dikecam banyak pihak.

Ketiga, sikap diam Suu Kyi terhadap isu Rohingya. Terakhir ia menolak militer Myanmar disebut melakukan kekerasan terhadap Rohingya pada Oktober 2016. Meski demikian, Suu Kyi telah membentuk komisi khusus yang akan memberikan rekomendasi terkait isu ini maksimum hingga 2017.

Cara menyikapi

Menyikapi krisis kemanusiaan yang terjadi di Myanmar, apakah ada yang bisa kita lakukan? Setidaknya atas nama kemanusiaan dan mencegah hal-hal yang lebih buruk lagi terjadi di dunia ini. Menurut saya, ada empat hal yang bisa kita lakukan.

Pertama, sebagai bagian dari masyarakat global kita wajib mendesak organisasi internasional seperti PBB, ASEAN, Uni Eropa, IOM (International Organization for Migration), dan sebagainya untuk aktif memberikan jaminan keadilan dan keamanan bagi etnis minoritas. Jika ASEAN, dengan prinsip nonintervensinya, menjadikan negara-negara anggota di dalamnya mandul bersuara dalam penyelesaian konflik regional, tidak ada pilihan lain selain memaksa organisasi di luar ASEAN yang lebih berpengaruh untuk menekan pemerintah Myanmar.

Sebagai contoh, banyak NGO internasional menekan PBB agar mengimplementasikan resolusi No. 70/233 terkait situasi krisis kemanusiaan di Myanmar yang sampai saat ini tidak ada realisasi yang berarti. Sebab memang perlu dukungan komunitas masyarakat global agar PBB menghasilkan resolusi yang memaksa pemerintah Myanmar mematuhi resolusi tersebut.

Negara-negara atau badan internasional juga bisa menggunakan prinsip Responsibility to Protect (R2P atau RtoP) terhadap etnis minoritas yang terancam genosida. R2P merupakan sistem baru yang diadopsi oleh PBB semenjak 2005 untuk mencegah genosida, kejahatan perang, pembersihan etnis, dan kejahatan terhadap kemanusian. Di sini, peran komunitas internasional sangatlah dibutuhkan.

Kedua, mendesak pemerintahan Suu Kyi untuk segera mengambil tindakan nyata atas nama demokrasi dan kemanusiaan. Tidak dapat dimungkiri kemenangan Suu Kyi dan partainya NLD membawa harapan baru bagi etnis Rohingya. Namun, hampir setahun pemerintahannya berkuasa, belum ada kebijakan yang signifikan untuk meredam konflik di Arakan.

Ketiga, membantu melalui NGO lokal yang mengirimkan bantuan ke para pengungsi Rohingya. Sebenarnya, bantuan yang mengalir ke Rohingya hanya bersifat sementara yang sama sekali tidak menyentuh akar persoalan.

Tapi memang bantuan itu tetap dibutuhkan mengingat lebih dari 120 ribu orang etnis Rohingya mengungsi dan terkadang juga diblokade oleh pemerintah Myanmar. Susahnya bantuan untuk masuk ke wilayah Rakhine dirasakan oleh NGO lokal di Indonesia.

Saya pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang menurunkan personel untuk mengirimkan bantuan rutin ke pengungsi Rohingya sampai sekarang. Dan, saya tahu betul bagaimana susahnya kehidupan pengungsi di sana.

Keempat, aktif melakukan kampanye kemanusiaan agar krisis ini menjadi perhatian dunia internasional. Tidak hanya bersimpati saat ada kejadian kekerasan, namun dalam bentuk kampanye yang kontinu.

Tentu kita tidak ingin menjadi orang yang peduli musiman: bersimpati hanya kala ada berita bencana. Juga, jangan sampai kita menyebarkan berita-berita hoax yang memperunyam masalah

peduli-rohingya-act4 peduli-rohingya-act3 peduli-rohingya-act2

sumber: act

Rekening bantuan Rohingya
https://kitabisa.com/banturohingya

Rekening Bantuan Sedekah Air / Waqaf Sumur – ACT 2015

web_banner_wakaf_sumur_889
Nomor Rekening Waqaf Sumur Air / Sedekah Air – ACT
BSM # 166 002 1212
Mandiri # 128 000 4555 808
CIMB NIAGA # 080 01 0098 4009

Rekening Bantuan Korban Asap 2015

web_banner_asap_05.10-01_179

“ Sudah dua pekan ini dada saya terasa sesak dan sakit. Makan juga susah. Kalau batuk, mual ingin muntah. Jadi susah tidur. Tidur telentang nafas sesak, telungkup apalagi.”

Keluhan kesehatan itu disampaikan Dinarwati (35), yang diungkapkannya kepada tim dokter dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang menggelar layanan kesehatan (yankes) untuk para korban bencana asap.

Korban kabut asap  semakin bertambah. Jumlah korban sakit di Riau tembus di atas 3 ribu jiwa. Yang memprihatinkan, jumlah korban anak-anak, termasuk bayi, cukup banyak.
Hingga Rabu 7 Oktober 2015, korban kabut asap tercatat 61.017 jiwa, meningkat sebesar 3.481 jiwa dari 57.536 jiwa pada hari sebelumnya.
“Jumlah tersebut diprediksi meningkat karena kabut asap yang makin pekat menyelimuti Provinsi Riau dan daerah sekitarnya,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau Andra Sjafril, Rabu (7/10).
Per 29 Juni-6 Oktober 2015, penderita ISPA sebanyak 50.741 jiwa. Pneumonia sebanyak 893 jiwa. Asma sebanyak 2.409 jiwa. Penderita sakit mata sebanyak 3.040 jiwa, disusul penderita penyakit kulit sebanyak 3.934 jiwa. Demikian sebagaimana dikutip GoRiau.com.
Kemudian, jumlah penderita ISPA per Kabupaten terhitung dari 29 Juni hingga 6 Oktober 2015 adalah sebagai berikut, Dumai sebanyak 4.258 jiwa. Indragiri Hilir sebanyak 1.773 jiwa. Kampar sebanyak 2.573 jiwa. Rokan Hulu sebanyak 4.657 jiwa. Siak sebanyak 5.814 jiwa, Kepulauan Meranti sebanyak 788 jiwa.
Kemudian Bengkalis sebanyak 4.907 jiwa. Pelalawan sebanyak 2.203. Rokan Hilir sebanyak 2.127 jiwa. Kuansing sebanyak 5.813 dan Indragiri Hulu sebanyak 3.400 jiwa dan Pekanbaru sebanyak 12.428 jiwa.
Satu per satu anak-anak di Riau mulai ‘berjatuhan’ akibat kabut asap yang tak kunjung reda. Sebelumnya, seorang anak perempuan yang duduk di bangku kelas 5 SD bernama Muhanum Anggriawati mengalami gagal pernafasan dan dinyatakan meninggal, Kamis (10/9) lalu.
Kemudian balita bernama Gibran Doktora Deysra balita berusia 13 bulan dan Silvia Natalia Boru Manalu balita yang masih berusia 10 bulan dirawat di rumah sakit akibat terkena radang paru-paru. Lalu, M Fadh Faisal yang masih balita berumur 15 bulan juga dirawat di rumah sakit akibat mengalami infeksi saluran pernafasan.
Selain itu, Muhammad Iqbal (31) juga dinyatakan meninggal dunia, Senin (5/10/2015) sore kemarin, akibat terlalu banyak terpapar asap. Nyawa almarhum tak sempat ditolong, karena mengalami sesak nafas hebat.
Selanjutnya, Silvia Natalia Boru Manalu, yang masih berusia 10 bulan. Anak bungsu dari pasangan Manalu dan Boru Juntak ini lemas tak berdaya disalah satu kamar Rumah Sakit Santa Maria Pekanbaru, dengan kondisi infus di tangan, serta selang oksigen dan selang uap di hidungnya.
Kedua orangtua mereka cuma bisa pasrah sambil menatap dalam-dalam penderitaan sang anak, yang terlihat terengah-engah akibat kesulitan bernafas.
Menurut laporan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru, Rabu pagi, visibility (jarak pandang) di Pekanbaru 500 meter, Rengat 100 meter, Dumai 400 meter, dan Pelalawan 200 meter.

No Rekening bantuan asap ACT:
BCA: 676 030 3133
BSM: 004 011 9999

Rekening Atas Nama: AKSI CEPAT TANGGAP

HATI-HATI REKENING ATAS NAMA PER-ORANGAN PASTIKAN ATAS NAMA LEMBAGA

 

Selain ACT ada juga dari Rumah Zakat

POSKO DARURAT KABUT ASAP

Kondisi kabut asap yang hingga saat ini telah mencapai status darurat, telah membuat sebagian besar masyarakat yang terkena dampat musibah tersebut di kepulauan Sumatera dan Kalimantan mengalami gangguan kesehatan. Karenanya, RZ berupaya membantu mereka yang membutuhkan bantuan dengan meluncurkan program Posko Darurat Kabut Asap.Program tersebut merupakan upaya RZ dalam memberikan layanan kesehatan berupa pengadaan masker dan tabung oksigen untuk korban bencana asap yang melanda di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Rencananya, RZ akan membangunkan Posko Darurat Kabut Asap tersebut di 6 titik bencana, antara lain Pekanbaru, Palembang, Pontianak, Samarinda, Banjarmasin dan Balikpapan.Layanan Posko Darurat Kabut Asap, antara lain :1. Penyediaan Masker Berkualitas
2. Pemberian Oksigen
3. Pemeriksaan Kesehatan oleh Tenaga Medis
4. Obat-obatan
5. Pengantaran Ambulance.

Rekening Atas Nama: YAYASAN RUMAH ZAKAT INDONESIA

Donasi1-rekening0korban-asap -2015

Berita Korban asap:

  • http://act.id/id/whats-happening/view/2088/korban-asap-per-hari-lebih-3000-jiwa-jatuh-sakit
  • http://act.id/id/whats-happening/view/2085/mengerikan-30-juta-warga-indonesia-terpapar-asap

Sedekah Pangkas Rambut Anak -anak Rohingya

.: “Hidup Barunya, Dimulai dari Memangkas Rambut” :.

ACTNews, LHOKSUKON – Kalau ada yang bisa dilakukan untuk menyenangkan anak-anak yatim Rohingya, saya ingin melakukannya. Tak harus pakai duit, kan? Minggu, (17/5/2015), tampillah, Razali, pria parobaya dari Keude Lapang, Lhoksukon, Aceh Utara.

Apa yang bisa anda lakukan? “Saya bisa memangkas rambut anak-anak itu. Kasihan, mereka tak karuan rambutnya,” ujar Razali. Wah, ini jenis relawan unik yang sebelumnya belum pernah dilibatkan dalam aksi kemanusiaan ACT.

Jadilah, sore itu, sehabis menonton film animasi, anak-anak lelaki dibawa ke alam terbuka. Duduk di bangku plastik, antri dengan tertib. Antrian anak-anak yang mau ikut pangkas rambut massal, jadi tontonan menarik. Di sudut-sudut yag luas, sepanjang adegan ini bisa dipandang, banyak hati ikut terhibur. Banyak bibir ikut tersenyum. Senang, anak-anak ada yang mengelus kepalanya, menyisir, usai rambutnya dipangkas Razali dengan rapi.

Anak-anak Rohingya, kembali tersenyum. Saling lirik kawan yang masih kusut-masai rambutnya. Yang sudah dipangkas, merasa gagah. Sayang tak ada cermin besar buat bergaya. Mengintip wajah di cermin Pak Razali, cukuplah. Hari ini, hidup baru kuawali dengan membuang ‘rambut Myanmar’ ku. Biarlah, hari ini tumbuh rambut baru, rambut yang tumbuh di Tanah Rencong, Bumi Aceh Utara.

Razali, menikmati menit demi menit, menyisir dan memotong rambut anak-anak itu. Ia lakukan penuh penghayatan, seperti memegang kepala anaknya sendiri. Kalau Razali bisa menyenangkan anak-anak dengan alat pangkas rambutnya, kita semua pasti bisa. Mereka, generasi pelanjut nasib bangsa Arakan, muslim Rohingya tak boleh punah. (is/ajm)


css.php