You are currently browsing the archives for the Testimoni Sedekah category


Bebaskan hutang 20jt dapat 1.5 Miliar

Bukan bermaksud sombong, saya kemarin mendapatkan doorprize mobil mini cooper seharga 1,5M karena saya membebaskan hutang seorang client saya senilai 20jt, Sebulan setelah itu, tanggal 14 Januari saya dinyatakan sebagai pemenang mobil mini cooper senilai 1,5M.

Kisah Sedekahnya Pemulung yg Suka Pengajian

“Soalnya, kalau saya sedekahkan, uang Rp 2.000 itu udah pasti milik saya di akherat, dicatet sama Allah…. Kalau uang sisa yang saya miliki bisa aja rezeki orang lain, mungkin rezeki tukang beras, tukang gula, tukang minyak tanah….” Ibu Ela menjelaskan, kedengarannya jadi seperti pakar pengelolaan keuangan keluarga yang hebat.

( kisah nyata team uang kaget) Saya menemui Ibu Ela di rumahnya, depan mesjid jami Al Hidayah di Darmaga Lonceng, Bogor. Menemuinya tidak butuh waktu lama, karena hampir semua orang di dekat mesjid itu kenal Ibu Ela. Rumahnya ada di dalam gang, sedikit di bibir sungai.

Saya mengucap salam dan dijawab oleh tetangganya…
“Mas.. cari bu Ela ya…?”
“Iya… orangnya ada Bu…?” tanya saya..
“Oh.. dia lagi di sungai” kata ibu tadi
“Ngapain Bu..?” saya bertanya lagi. Mungkin sedang mencuci pakaian, pikir saya.
“Memang kerjaannya tiap hari ke sungai, mungutin sampah-sampah plastic dari botol kemasan sabun atau shampoo… bentar lagi juga pulang.” Jawab itu tadi panjang lebar.

Informasi yang saya terima ternyata benar adanya. Ibu Ela adalah wanita yang pekerjaannya memang mengumpullkan sampah plastic dari kemasan. Cuma saya tidak terbayang, bahwa untuk memperolehnya, dia harus memungut di sungai.

Tak beberapa lama, datang wanita paruh baya, kurus, rambutnya diikat ke belakang, banyak warna putihnya. Ibu Ela. Mengenakan baju bergambar salah satu calon presiden dan wakil presiden pada pemilihan presiden tahun 2004 lalu.

Saya langsung menyapa.
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikum salam. Ada apa ya Pak?” tanya Ibu Ela..
“Saya dari tabloid An Nuur, mendapat cerita dari seseorang untuk menemui Ibu. Kami mau wawancara sebentar, boleh Bu…?” saya menjelaskan, dan mengunakan ‘Tabloid An Nuur’ sebagai ‘penyamaran’.
“Oh.. boleh, silahkan masuk.”

Ibu Ela, masuk lewat pintu belakang. Saya menunggu di depan. Tak beberapa lama, lampu listrik di ruang tengahnya nyala, dan pintu depan pun dibuka.
“Silahkan masuk…”
Saya masuk ke dalam ‘ruang tamu’ yang diisi oleh dua kursi kayu yang sudah reot. Tempat dudukannya busa yang sudah bolong di bagian pinggir. Rupanya Ibu Ela hanya menyalakan lampu listrik jika ada tamu saja. Kalau rumahnya ditinggalkan, listrik biasa dimatikan. Berhemat katanya.

“Sebentar ya Pak, saya ambil air minum dulu” kata Ibu Ela.
Yang dimaksud Ibu Ela dengan ambil air minum adalah menyalakan tungku dengan kayu bakar dan diatasnya ada sebuah panic yang diisi air. Ibu Ela harus memasak air dulu untuk menyediakan air minum bagi tamunya.

“Iya Bu.. ngga usah repot-repot.” Kata saya ngga enak.

Kami pun mulai ngobrol, atau ‘wawancara’.
Ibu Ela ini usianya 54 tahun, pekerjaan utamanya mengumpulkan plastic dan menjualnya seharga Rp 7.000 per kilo. Ketika saya Tanya aktivitasnya selain mencari plastic,
“Mengaji…” katanya
“Hari apa aja Bu…?” Tanya saya

“Hari senin, selasa, rabu, kamis, sabtu…” jawabnya. Hari Jum’at dan Minggu adalah hari untuk menemani Ibu yang dirawat di rumahnya.

Oh.. jadi mengaji rupanya yang jadi aktivitas paling banyak. Ternyata dalam pengajian itu, biasanya ibu-ibu pengajian yang pasti mendapat minuman kemasan, secara sukarela dan otomatis akan mengumpulkan gelas kemasan air mineral dalam plastik dan menjadi oleh-oleh untuk Ibu Ela.

Hmm, sambil menyelam minum air rupanya. Sambil mengaji dapat plastik.

Saya tanya lagi,
“Paling jauh pengajiannya dimana Bu?”
“Di dekat terminal Bubulak, ada mesjid taklim tiap Sabtu. Saya selalu hadir; ustadznya bagus sih…” kata Ibu Ela.

“Kesana naik mobil dong..?” tanya saya.
“Saya jalan kaki” kata Ibu Ela
“Kok jalan kaki…?” tanya saya penasaran.

Penghasilan Ibu Ela sekitar Rp 7.000 sehari. Saya mau tahu alokasi uang itu untuk kehidupan sehari-harinya. Bingung juga bagaimana bisa hidup dengan uang Rp 7.000 sehari.

“Iya.. mas, saya jalan kaki dari dini. Ada jalan pintas, walaupun harus lewat sawah dan jalan kecil. Kalau saya jalan kaki, khan saya punya sisa uang Rp 2.000 yang harusnya buat ongkos, nah itu saya sisihkan untuk sedekah ke ustadz…” Ibu Ela menjelaskan.
“Maksudnya, uang Rp 2.000 itu Ibu kasih ke pak Ustadz?” Saya melongo. Khan Ibu ngga punya uang, gumam saya dalam hati.
“Iya, yang Rp 2.000 saya kasih ke Pak Ustadz… buat sedekah.” Kata Ibu Ela, datar.
“Kenapa Bu, kok dikasihin?” saya masih bengong.
“Soalnya, kalau saya sedekahkan, uang Rp 2.000 itu udah pasti milik saya di akherat, dicatet sama Allah…. Kalau uang sisa yang saya miliki bisa aja rezeki orang lain, mungkin rezeki tukang beras, tukang gula, tukang minyak tanah….” Ibu Ela menjelaskan, kedengarannya jadi seperti pakar pengelolaan keuangan keluarga yang hebat.

Dzig! Saya seperti ditonjok Cris John. Telak!
Ada rambut yang serempak berdiri di tengkuk dan tangan saya. Saya Merinding!

Ibu Ela tidak tahu kalau dia berhadapan dengan saya, seorang sarjana ekonomi yang seumur-umur belum pernah menemukan teori pengelolaan keuangan seperti itu.

Jadi, Ibu Ela menyisihkan uangnya, Rp 2.000 dari Rp 7.000 sehari untuk disedekahkan kepada sebuah majlis karena berpikiran bahwa itulah yang akan menjadi haknya di akherat kelak?

‘Wawancara’ yang sebenarnya jadi-jadian itu pun segera berakhir. Saya pamit dan menyampaikan bahwa kalau sudah dimuat, saya akan menemui Ibu Ela kembali, mungkin minggu depan.

Saya sebenarnya on mission, mencari orang-orang seperti Ibu Ela yang cerita hidupnya bisa membuat ‘merinding’..Saya sudah menemukan kekuatan dibalik kesederhanaan. Keteguhan yang menghasilkan kesabaran. Ibu Ela terpilih untuk mendapatkan sesuatu yang istimewa dan tak terduga.

Minggu depannya, saya datang kembali ke Ibu Ela, kali ini bersama dengan kru televisi dan seorang presenter kondang yang mengenakan tuxedo, topi tinggi, wajahnya dihiasai janggut palsu, mengenakan kaca mata hitam dan selalu membawa tongkat. Namanya Mr. EM (Easy Money)

Kru yang bersama saya adalah kru Uang Kaget, program di RCTI yang telah memilih Ibu Ela sebagai ‘bintang’ di salah satu episode yang menurut saya salah satu yang terbaik. Saya mengetahuinya, karena dibalik kacamata hitamnya, Mr. EM seringkali tidak kuasa menahan air mata yang membuat matanya berkaca-kaca. Tidak terlihat di televisi, tapi saya merasakannya.

Ibu Ela mendapatkan ganti Rp 2.000 yang disedekahkannya dengan Rp 10 juta dari uang kaget. Entah berapa yang Allah ganti di akherat kelak.

Ibu Ela membeli beras, kulkas, makanan, dll untuk melengkapi rumahnya. Entah apa yang dibelikan Allah untuk rumah indahnya di akherat kelak…

Sudahkah kita menyisihkan ongkos ke akherat?

source: mardigu wp

Sedekah 100 juta menjadi 1 Milyar!

Saya dan suami menikah 08 Februari 2004. Kami sama-sama bekerja di perusahaan yang berbeda sehingga masing-masing memiliki penghasilan sendiri.

Pada awal pernikahan kami masih tinggal di rumah kontrakan. Kami sudah beberapa kali survei mencari rumah untuk dibeli secara kredit, tapi beberapa kali pula tidak cocok. Cocok harga tapi tidak cocok lokasi atau bangunan, cocok lokasi dan bangunan tapi tidak cocok harga atau saya sudah cocok tapi suami tidak mau dan begitu pula sebaliknya. Pernah pula mencoba membangun sendiri kecil-kecilan di tanah kami, tapi lalu ribut soal denah. Capek deh… Jadilah rumah itu gak jadi-jadi, hehe… Selain dipusingkan soal rumah, kami juga dibuat pusing dengan belum hadirnya si buah hati. Sampai pernikahan 1,5 tahun belum juga ada tanda-tanda kehamilan saya.

Sekitar Agustus 2005 suami saya merenovasi rumah orangtuanya dari pondasi sampai atap menjadi rumah permanen yang layak huni. Beberapa bulan kemudian saya juga mengirimkan sejumlah uang kepada orang tua untuk merenovasi rumah orang tua saya. Total biaya renovasi kedua rumah sekitar 100 jutaan, padahal waktu itu kami masih jadi kontraktor rumah alias tinggal di rumah kontrakan, hehe…

Keikhlasan saya beberapa kali “tergoda” bila melihat teman-teman seangkatan yang sudah memiliki rumah sendiri walaupun kredit. Apalagi bila ada yang nanya “tinggal dimana?” “Masih ngontrak?” Duuuhhh,… Seandainya uang itu tidak untuk renovasi… Astaghfirullah… Kenapa saya jadi kurang ikhlas gini?

Hanya berselang beberapa minggu setelah rumah mertua selesai direnovasi dan uang saya transfer ke orang tua, subhanallah… saya hamil… Tak terkira bahagianya saya dan suami setelah 20 bulan penantian… Saya cipika cipiki suami masing-masing 10x saking senangnya, hehe…

Anak kami akhirnya lahir 11 September 2006, perempuan…cantik kayak ibunya, hehe.. Waktu itu kami masih juga kontraktor rumah.

Pada awal tahun 2007 ada iklan penjualan rumah. Lalu kami melihat rumah itu. Kali ini saya dan suami sama-sama cocok dengan lokasi, bangunan, dan denahnya..Rumah itu tampak masih baru dibangun. Lalu kami ketemu pemilik rumah. Dari pembicaraan pemilik rumah dan tetangga sekitarnya, rumah itu baru dihuni 1,5 tahun setelah dibangun. Pemiliknya terpaksa menjual karena kepepet uang. Setelah nego akhirnya disepakati harga 190 juta melalui KPR. Jadilah kami menempati rumah sendiri walaupun kredit sebagian tanpa menjual tanah kami.

Beberapa teman yang berkunjung ke rumah kami sempat menanyakan harga rumah itu. Saya mulanya enggan menjawab pasti dan saya katakan kalau dibeli murah karena orangnya kepepet kebutuhan uang. Lalu teman-teman saya menebak-nebak, dilihat dari luas bangunan, kualitas bangunan dan luas tanah harganya 300juta! Dan itu bukan satu dua orang saja yang mengatakannya.. Subhanallah… uang kami yang 100juta dulu sudah kembali…

Pada tahun 2007 juga kami alhamdulillah bisa memiliki mobil baru… Alhamdulillah…

Kemudahan-kemudahan yang diberikan Allah terus saja kami rasakan. Pada awal tahun 2009, kami mendapat fasilitas rumah bersubsidi dari perusahaan tempat suami bekerja. Tanpa DP dan cicilannya sangat ringan jika dibandingkan dengan kredit sendiri melalui bank. Nilai jual rumah itu bisa mencapai 250 juta! Rumah itu kami sewakan sekaligus 2 tahun dengan nilai sewa yang cukup untuk mencicil selama 2 tahun!!!

Setelah memiliki 2 buah rumah dan mobil, pada akhir tahun 2009 dan awal tahun 2010 kami membeli beberapa
hektar kebun kelapa sawit. Bila dihitung-hitung, total aset mencapai sekitar 1 milyar…

Alhamdulillah… Terima kasih ya Allah… Walaupun sebagian aset kami beli dengan kredit, tapi selalu dimudahkan untuk membayar cicilannya… Tidak hanya itu, kini kami sudah memiliki 3 buah hati putra putri yang kami dambakan.

Kesimpulannya…. SEDEKAHLAH, MAKA REJEKIMU AKAN BERTAMBAH… Wallahu A’lam

*iie rachma

Sedekah Berbuah ONH Plus

Sedekah 30 juta rupiah? Beraat maaan! Tapi itulah yang dilakukan Ahmad Salihin (35). Walau awalnya berat. Tetapi setelah dijalani, dengan berusaha mengikhlaskan sedekahnya, berat menjadi ringan. Bahkan, situasinya jadi terbalik. Rasanya berat kalau tidak bersedekah. Jika tanpa iman, dan dukungan penuh istri, serta saran dan nasehat dari ustadz Yusuf Mansur, mungkin kisah sedekah 30 juta tak akan pernah ada.
Begini ceritanya. Sebagai seorang muslim, tentu wajar jika ingin sekali menunaikan rukun Islam yang ke-5: Haji. Cita-citanya ingin ia laksanakan bersama istri tercintanya, Zuriati Usman. Meski jabatan adalah Pimpinan Bank Muamalat Indonesia Cabang Ambon, Maluku, tak serta merta banyak uangnya. Dia harus menabung sedikit demi sedikit. Setiap dapat rezeki ia titipkan uangnya kepada sang istri. Rasanya lama sekali menabung uang itu.
Sampai suatu ketika di tahun 2008 ia bertemu dengan ustadz Yusuf Mansur. Tukar pikiranlah ia dengan ustadz perihal niatnya pergi haji.
Saat itu ustadz Yusuf menanyakan,” Berapa tabungan haji ente sekarang?”
Salih pun menjawab,” Dua belas setengah juta rupiah Ustadz…”
“Sumbangkan saja uang ente,” kata Ustadz Yusuf. Sebuah saran yang di luar dugaan Salih. Ia menyampaikan hal itu kepada istrinya. “ Bismillah saja, Pak,” jawab istrinya spontan. Wah, jawaban istrinya membuat niat Salih bulat untuk menyedekahkan uangnya.
Akhir 2008, seseorang yang butuh bantuan itu pun datang. Salah seorang anggota keluarganya butuh dana untuk biaya pernikahan. Ibu kandungnya saat itu menyarankan, ”Tolong bantu saudaramu itu, Nak!” Perintah ibunya itu ia patuhi. Uang tabungan haji yang sudah mencapai 30 juta rupiah itu pun bulat-bulat ia sedekahkan.
Setelah itu ia melupakannya…Tepatnya, ia berusaha melupakannya. Sebab, siapapun pasti keikhlasannya diuji untuk melepaskan harta yang sangat dicintainya. Banyak lagi. Jutaan. “Saya akui, ada rasa berat menyumbangkan harta sebesar itu.”
Sampai awal Januari 2009, balasan atas sedekahnya pun datang. Ia mendapatkan hadiah dari kantor pusat selaku salah satu karyawan BMI yang berprestasi. Hadiah itu: Ongkos Naik Haji Plus (ONH Plus)! “Rezeki ONH Plus itu datang tiga minggu setelah kami menyedekahkan uang 30 juta rupiah itu,” ujar Salih.
Jika dipikir-pikir, ujar Salih, terpilihnya ia sebagai karyawan berprestasi dan dapat hadiah ONH Plus, adalah hal yang musykil. “Tapi jika menurut logika, memang tidak masuk akal, tetapi kalau mengikuti keyakinan akan kuasa Allah, tidak ada yang tidak mungkin,” ujar ayah dari Ahmad Fathan Syauqi (7,5).
Insya Allah, sudah fix Ahmad Salihin dan istrinya, akan berangkat haji tahun 2010. “Hari dan tanggal keberangkatan tinggal menunggu konfirmasi dari kantor pusat (BMI),” jelas Salih saat ditelepon akhir Juli ini.
Sejak memperoleh bukti keajaiban sedekah, Salih pun tambah kenceng sedekahnya. “Pokoknya setiap dapat rezeki, saya sisihkan sebagian untuk mereka yang membutuhkan,” tuturnya. Karena keyakinan yang sudah terpateri itu, Salih kini mampu membiayai 6 anak dhuafa sekolah. Ada tiga anak dhuafa yang ia biayai untuk menempuh Sekolah Dasar, dua anak SMP, dan satu anak kuliah di sebuah perguruan tinggi di Sulawesi. Selain itu, Salih menyantuni empat janda miskin yang tinggal di sekitar rumahnya.
“Kepada kawan-kawan, saya mengajak mereka untuk rajin-rajin sedekah. Bantulah orang-orang yang tidak mampu. Saya sendiri membuktikan, sedekah tidak membuat kita kehilangan, tetapi justeru rezeki kita bertambah-tambah. Nyatanya, setelah saya rajin sedekah, dalam menghadapi persoalan terasa dimudahkan jalan keluarnya. Selain, ada perasaan bahagia di dalam hati, serta betapa rezeki menjadi datang darimana saja tanpa kita duga,” pungkas Salih. [ApikoJM]

Date of Posting: 25 January 2011
Posted By: Ahmad Salihin

sumber: pppa

Sedekah Agar Tiap Tahun Umroh

‘’Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga umroh bersama sekeluarga,’’ tutur Johanis Suhaeli, yang berangkat umroh bersama 8 anggota keluarganya pada 4 Juli 2009. Tak hanya itu, ia juga sangat berbahagia bisa umroh bareng Ustadz Yusuf Mansur. Ini sungguh kesempatan langka.
Pekerja di bidang kontraktor ini mengakui, dua momentum itu sudah lama dirindukannya. Dan dia memang berjuang keras untuk dapat meraihnya. Riyadhoh adalah cara manjur yang diperolehnya dari Ustadz Yusuf Mansur. Yakni sedekah dan peningkatan amal ibadah lainnya.
‘’Waktu itu, saya baru punya uang beberapa puluh juta rupiah. Padahal, biaya umroh 8 orang sekitar Rp 175 juta. Tapi dengan ilmu sedekah, saya yakin saya akan bisa memenuhinya,’’ tutur bapak empat anak ini.
Digenjotnya lah sedekah dan ibadah dia sekeluarga. Bahkan Johanis mematok target, dalam jangka sekian bulan ke depan dia harus mengelurkan sedekah sebesar Rp 40 juta. Angka ini merupakan 10% dari nilai jual sebuah apartemen miliknya yang ingin dilepas.
Alhamdulillah, baru bersedekah sampai Rp 10 juta, apartemen itu laku. Dari situlah Johanis mampu melunasi sekaligus biaya umroh sekeluarga.
Itulah pembuktian kesekian kalinya kedahsyatan sedekah. Johanis menuturkan, ia dan istri dapat menunaikan ibadah haji pada tahun 2005, juga lantaran kekuatan sedekah. Tanpa sedekah, katanya, ‘’waktu itu naik haji kayaknya mustahil buat saya. Tidak cukup uangnya, hingga kemudian mendapat rizqon min haitsu laa yahtasib.’’
Suami dari Sekar Budi Kedasih ini juga yakin, ia dan istri dikaruniai empat anak berselang-seling putri-putra-putri-putra, dengan jarak usia ideal, lantaran sedekah. ‘’Setiap istri hamil, kami selalu bersedekah khusus untuk meminta kepada Allah mengenai jenis kelamin dan kesehatan anak kami. Alhamdulillah selalu terkabul,’’ terang Johanis.
Semua pengalaman tadi membuatnya ‘’gila sedekah’’. Seperti belum lama berselang, warga Magelang ini enteng saja menyedekahkan sebuah mobil melalui PPPA Daarul Qur’an. Hajatnya adalah, ingin diberi kemampuan agar dapat umroh setiap tahun.
Baginya, menjadi tamu Allah merupakan kehormatan besar dan berdampak besar pula bagi perbaikan kualitas kehidupan sekeluarga. Misalnya, keluarganya kini sudah berbudaya sedekah. Termasuk anaknya yang masih terbilang belia. Si kecil tak segan-segan mengingatkan orangtuanya bila lupa seharian belum bersedekah. (aya hasna)

sumber: pppa