You are currently browsing the archives for the Testimoni Sedekah category


Zaskia Mecca:Celaka Bila Lupa Sedekah

Sedekah, buat Keluarga Mama Farida, sudah menjadi kebutuhan hidup sehari-hari. Setelah membuktikan sendiri dampak kedahsyatan sedekah terhadap kehidupannya sehingga lebih baik, ia menularkan kebiasaan sedekah pada suami dan anak-anak.
‘’Ayolah, Nak, kau pasti lupa bersedekah,’’ kata Mama Farida kepada putrinya, Zaskia Adya Mecca, ketika pesinetron religius ini diterpa badai gosip miring.
‘’O, iya Ma,’’ jawab Iya, panggilan Zaskia, waktu itu.
Alhamdulillah, badai kecil itu cepat berlalu.
Tapi, itulah, namanya juga selebritas yang sangat padat jadwal kerja. Zaskia kadang terlupa, melewatkan hari tanpa bersedekah. Namun, ia punya ‘’alarm’’ yang bakal mengingatkannya. Apa itu?
Celaka!
Ya, pemain Kiamat Sudah Dekat ini mengakui, ia pernah mengalami peristiwa yang ‘’tidak elit’’ lantaran lupa bersedekah. Yakni, “Ditabrak Metromini,” katanya sambil mesem.
Kejadiannya, tutur Iya, usai syuting sinetron Kiamat Sudah Dekat I. “Saat itu, aku memang belum sempat bersedekah. Nah, tiba-tiba baru saja keluar dari rumah, mobilku ditabrak metromini sampai penyok,” ucapnya kecut.
“Aku membuktikan, sedekah itu bisa menjadi penolak bahaya,” ujar Iya saat mengikuti silaturahmi kru film Kun Fayakuun di rumah dinas Ketua MPR Hidayat Nurwahid di Kompleks Widya Chandra, Jakarta Selatan.
Ternyata, keyakinan Zaskia juga diamini mantan selebritas ‘’Fahmi Bo’’. Dalam sebuah episode “Dorce Show” yang ditayangkan Trans TV, “Fahmi Bo” tampil sebagai bintang tamu.
Dulunya dia artis laris sehingga bergelimang harta. Tapi kini, roda kehidupannya berputar ke bawah. Fahmi sekarang berjualan gorengan di depan rumahnya. Bahkan untuk membiayai sekolah anaknya pun, dia dibantu teman-temannya.
Ketika ditanya Dorce, kenapa kehidupannya kini kok bisa sampai seperti itu, dengan spontan Fahmi Bo menjawab: ‘’Saya kurang bersedekah.’’
Turut berperan dalam Kun Fayakuun, Zaskia mengakui keajaiban sedekah. “Film ini sekaligus dakwah buat saya. Saya di sini memang cuma sebagai cameo, cuma satu scene saja. Tetapi, meski begitu, film ini mampu memberi pelajaran yang paling berharga buat saya,” jelasnya.
Usai berbagi, seringkali ia langsung ketiban rezeki nomplok. “Biasanya, selang setengah jam atau satu sajam setelah bersedekah saya langsung ditelepon, ada job,” ungkapnya seraya tersenyum. (maiyasya)

sumber: pppa

Sedekah Tak terbukti Uang Kembali !!!

Suatu ketika di tahun 2006, dalam acara Islamic Book Fair di Gelora Bung Karno, ustadz Yusuf Mansur menantang jamaah. Usai sedikit memberi pengantar tentang kehebatan sedekah, Sang Ustadz berkata, “Silakan Bapak-bapak Ibu-ibu sisihkan uang untuk kami salurkan untuk kegiatan sosial.” Lalu ia bentangkan sorban di atas meja. “Perhatikanlah, sesudah Bapak dan Ibu bersedekah, apa yang terjadi. Kalau sekiranya, tidak terjadi apa-apa yang menunjukkan bahwa sedekah adalah amal ibadah yang luar biasa, bapak ibu silakan hubungi saya, uang akan saya ganti,” tantangnya.
“Tapi kalau ternyata sedekah bapak dan ibu terbukti dibalas dengan berbagai kebaikan berlipat, hubungi saya juga, lalu ceritakan kepada saya dan masyarakat agar gemar bersedekah.”
Para pengunjung itu pun satu persatu merogoh kantongnya. Di atas sorban Ustadz Yusuf Mansur pun terkumpul beberapa pecahan rupiah. Dari pecahan seribu sampai seratus ribu rupiah.
Di antara yang ikut menaruh uang sedekah di atas sorban adalah Amad Chumsoni (34). Pegawai sebuah perusahaan kontraktor itu meletakkan selembar uang limapuluh ribuan. “Saya penasaran ingin membuktikan tantangan Ustadz Yusuf Mansur,” ungkap Amad.
Seminggu ditunggu, dua minggu dinanti, tak ada kejadian istimewa.
Bulan kedua, sepertinya ada yang patut direnungkan oleh Amad.
Saat itu, istrinya hamil tua 8 bulan. Akibat ikut sinoman (membantu orang hajatan—red) acara walimahan orangtuanya, Marwita (34) istrinya, kelelahan. Takut berpengaruh terhadap janin, Amad melarikan istrinya ke rumah sakit, menjalani rawat inap. Beberapa hari saat istri masih dirawat, teman sekantor, kontak. “Pak, tolong, minta nomor rekeningmu.” Nomor rekening Amad tak berapa lama, bertambah 5 juta rupiah! Amad pun,” Apakah ini balasan dari Allah Swt atas sedekah 50 ribu saya tempo hari?” Entahlah, Amad hanya berucap syukur, karena pertolongan datang di saat yang sangat tepat.
Selang beberapa lama, Amad yang masih kuliah S2 itu ketemu temannya. “Mad, apa kamu nggak kepengin pergi naik haji?” Amad menjawab retoris,”Siapa sih orang yang tidak mau naik haji?”
Temannya lalu memberi saran, ”Kalau memang ada keinginan, lanjutkan dengan niat yang kuat untuk mewujudkan keinginan itu. Paling tidak dengan tindakan nyata. Misalnya dengan membuka rekening tabungan haji.” Amad berpikir sejenak,” Hhmm betul juga saran teman saya ini.”
Tak lama, Amad membuka rekening tabungan haji. Ia setor 900 ribu sebagai awalan. Istrinya juga ikut buka rekening haji. Setoran awal satu juta. Amad cerita ke teman-temannya, bahwa ia berencana naik haji. Seorang temannya mengingatkan, ”Hati-hati Pak Amad, kalau buka tabungan haji, nanti rezekimu jadi dasyat!”
Selain rezeki mungkin dasyat, tetapi godaannya juga cukup berat.
Tahun 2007, tabungan haji Amad dan istrinya sudah cukup. Waktu itu sudah terkumpul 54 juta rupiah. Cukuplah karena ONH memang Rp 27 juta saat itu. Diperkirakan kalau setor ONH 2007, maka ia bisa berangkat paling cepat 2009 atau 2010. Maklumlah waiting list calon jamaah haji Indonesia, bejibun.
Godaan itu pun datang. Tiba-tiba Amad berkeinginan membeli laptop. “Padahal saat itu saya sudah punya PC yang masih bagus,” katanya. Maka uang ONH cash on hand itu pun ditimang-timang. Apa sebagian mau dipakai dulu buat beli laptop atau gimana. Kan waktu hajinya, masih panjang.
Saat itu peringatan langsung datang. Di kantor, dua HP Amad hilang dicuri orang! “ Saya heran, selama ini HP saya taruh di meja kerja aman-aman saja, mengapa hari itu saya apes sekali?”
Amad pun kembali merenung. “Apa ada yang salah dengan pikiran dan tindakan saya selama ini?” Cukup lama Amad coba introspeksi diri. “Mungkin karena saya mencoba menyelewengkan uang tabungan haji untuk keperluan lain, yakni membeli laptop. Astaghfirullahal adziim,’’ Amad bersegera kembali ke niat semula, naik haji. Uangnya segera ia setor.
Sungguh aneh, tak berapa lama, kantor memberinya sebuah HP dan sejumlah uang. “Ini HP untuk menggantikan punyamu yang hilang, dan uang ini terserah mau beli HP lagi atau keperluan lain.”
Kemudahan berikut didapat Amad. Seyogyanya Amad dan istrinya berangkat 2009 atau 2010, tetapi di tahun 2008, mereka berdua sudah bisa terbang ke tanah suci.
Bahkan sebelum berangkat haji, Amad sempat ditugaskan kantor untuk ke Banjarmasin. Naik pesawatlah ia kesana. “Sepertinya saya dilatih untuk biasa naik pesawat, karena memang sebelumnya saya belum pernah naik pesawat terbang.”
Dihitung-hitung secara matematik, memang tidak bisa. Apakah semua itu karena sedekah yang ia berikan dulu. Tapi yang jelas, seusai naik haji, di rumah kontrakannya Kelurahan Cawang, Kecamatan Kramat Jati, Jaktim kedatangan tamu yang menawarkan rumah. Seorang teman yang butuh uang. Uang di kantong tak ada sepertiganya dari harga yang diminta temannya. Namun dengan bantuan pinjaman kantor dan keluarga, rumah seluas 49 meter persegi itu pun terbeli. “Alhamdulillah, Mas… saya akhirnya punya rumah sendiri, setelah sekian lama berstatus ‘kontraktor’,” ujar lelaki kelahiran Kutoarjo, Oktober 1975 ini setengah bergurau. [team daqu]

sumber: pppa

 

Rina Gunawan: Sedekah Pijit jadi Keluarga Sakinah

Hebat. Rumah tangga selebritas Rina Gunawan termasuk yang adem-ayem hingga saat ini. Padahal, usia perkawinannya dengan Teddy Syach, sudah berumur sepuluh tahun. Banyak pasangan selebritas yang pernikahannya bubar jalan tak sampai beberapa tahun.
Apa rahasia keawetan bahtera perkawinan mereka?
‘’Berusaha menjadi istri dan ibu yang baik,’’ demikian ungkap perempuan berusia 35 tahun ini. Sempat mengikuti pengajian KH Abdullah Gymnastiar, setelah berjilbab alumnus Swara Mahardika, Geronimo, dan Studio-26 ini membatasi aktivitas sebagai selebritas. Ibu dari Aqshal Ilham Syafatullah (9) dan Karnisya Rahmasyach (5) ingin lebih fokus pada urusan keluarga. Padahal, ia termasuk sukses membawakan acara seperti Campur-Campur, Anda Meminta Kami Memutar (AMKM), On Air, dan Ruming (Rina Rumpi Sama Aming).
Selain itu, kunci sukses Rina adalah sedekah. Tak hanya berupa uang atau barang, tapi juga jasa. Misalnya, saat ia menjalankan ibadah haji tahun 2007. Perempuan bernama lengkap Rina Mustikana Gumilang Gunawan ini mengaku menjadi tukang pijat selama di Tanah Suci.
‘’Itu bentuk sedekah saya buat para anggota jamaah haji,’’ katanya. Kan di sana banyak kegiatan, jadi banyak yang kecapekan.”
Rina benar-benar total melayani jamaah. Ia bersegera memenuhi panggilan bila ditelepon oleh sesama jamaah haji perempuan yang minta dipijat. Karena merasa sama-sama tamu Allah di sana, Rina mengaku menjalaninya dengan ikhlas.
‘’Dampaknya luar biasa. Selama menunaikan rukun demi rukun haji, saya mengaku mendapat pengalaman religius yang istimewa yang mengokohkan iman. Alhamdulillah di sana balasan untuk dosa-dosa saya tidak ditampakkan, padahal biasanya banyak yang dibuka aibnya oleh Allah,’’ tutur Rina yang pernah bermain di sinetron seperti Erte Erwe (Rumah Tangga Ruwet), Pat Pat Gulipat, Mat Angin, dan bintang tamu dalam Si Doel Anak Sekolahan.
Saat ini, Rina Gunawan menjalankan usaha yang bergerak di bidang event organizer bernama ‘’9HN Production’’. Salah satu kebahagiaannya adalah menjadi pemandu Festival Muharram dan Tabligh Akbar di Sentul City, Bogor, 17-18 Januari 2009.
Kesuksesan acara kolosal yang melibatkan banyak artis dan dai termasuk Ustadz Yusuf Mansur itu tak lepas dari tangan dingin Rina. ‘’Alhamdulillah, pokoknya meriah, hebring, heboh deh,” tuturnya ceria. artis Rina Gunawan yang memandu acara tersebut. (maiyasya)

Date of Posting: 25 January 2011
sumber: pppa

Kuras Isi Dompet Dapat Anak & Rumah

Bak palu godam menghujam dada, saat dokter ahli kandungan memvonis Chamelia tak bakal punya anak. Tak terbayangkan dukanya, bagaimana Chamelia dan suami Mart Andreyas Supeno, jadi pasutri tanpa anak. Selama dua tahun, sejak menikah pada 2006, segala macam usaha medis dan nonmedis agar Chamelia bisa hamil, tak jua berbuah hasil. Malah ujungnya divonis, mandul. Duh!

Chamelia sempat down. Untungnya, suami selalu menghibur dan mengajak untuk selalu bersabar. “Anak itu milik Allah, kalau Allah menghendaki menitipkan anak pada kita, tidak ada yang bisa menghalangi. Yang penting kita terus berikhtiar,” hibur Mart, pria kelahiran 30 Maret 1978.

Walau sedikit menghibur, tak ayal kegundahan terus menggelayut. Bayangkan, seumur tanpa anak kandung…Walau ada yang menyarankan untuk melakukan inseminasi buatan, atau bayi tabung, sama sekali tak mengusik kenikmatan bayangan punya bayi kandung yang lahir secara normal seperti perempuan lainnya.

Saat hati sedang tidak karuan itulah, seorang teman memberi saran supaya melakukan konseling ke Wisata Hati milik Ustadz Yusuf Mansur, yang cabangnya ada di Masjid Agung Jawa Tengah. Chamelia pun bergegas ke kantor perwakilan Wisata Hati Semarang. Disana perempuan kelahiran Tegal, 13 Maret 1978, bertemu ustadz Saefudin.

Oleh ustadz Saefudin, Chamelia dan suaminya, disarankan untuk melakukan amalan sholat taubat 6 rakaat sebelum tidur, membaca istighfar sampai tidur, sholat tahajud 6 rakaat, kemudian kami tambah sholat hajat, sholat dhuha 6 rakaat, dan kami disarankan untuk melakukan sedekah sebanyak – banyaknya dan dibagi dibeberapa tempat. “Semua harus kami amalkan dengan istiqomah dan ikhlas, hanya ridho dan kasih sayang Allah yang kami harapkan. Karena kami yakin bahwa Allah Maha Berkehendak dan memiliki segalanya. Kami pasrah anak yang punya Allah, jadi kami hanya meminta dengan Allah saja itu yang kami pikir saat itu,” tutur Chamelia.

Adalah kehendak Allah subhanahu wa ta’ala juga saat Chamelia ditakdirkan bertemu dengan ustadz sedekah, Ustadz Yusuf Mansur, di bulan Januari, tahun 2008. Saat itu ustadz Yusuf Mansur diundang ceramah di Masjid Baiturrahman, Semarang. Saat itu kepada para jamaah masjid ustadz Yusuf menghimbau supaya jangan ragu-ragu menguras isi dompet untuk tujuan sedekah” Sedekahkan seluruh isi dompet kalian.” Kesempatan bertemu ustadz Yusuf tak disia-siakan oleh sepasang suami istri yang sedang dirundung duka itu. Kepada ustadz Yusuf, Chamelia memohon agar beliau mendoakan agar Allah segera memberikan kepada mereka anak. Ustadz Yusuf pun mendoakan mereka. “Yang penting ente-ente semua, jangan lupa bersedekah,” ujar ustadz Yusuf dengan gaya betawinya yang khas.

Chamelia dan suaminya pun, tanpa ragu menguras isi dompetnya. Yang tersisa hanya uang Rp 10.000, sekedar untuk jaga-jaga kalau tiba-tiba sepeda roda dua milik mereka, habis bensin atau ban bocor.

Siapa sangka, semenjak peristiwa yang menguras air mata mereka itu, segala jalan cita dilempangkan. Masih di tahun 2008, tepatnya bulan Maret, Chamelia dinyatakan positif hamil. “Alhamdulillah, kebahagiaan kami tak terkira,” ujar Chamelia, yang diamini suaminya, Mart.
Neysha Fiedella Syabil, anak yang sudah ditunggu-tunggu itu, pun lahir pada 30 Nopember 2008. Duh, subhanallah, bahagianya.

Balasan dari Allah, jauh sebelumnya, juga sudah diberikan, yakni pada tahun 2007, beberapa bulan setelah saran ustadz Saefudin dilaksanakan oleh pasangan suami istri itu. Balasan itu berupa kemampuan membeli tanah, dengan harga di bawah standar. Lalu pada awal 2008, Mart dan istrinya mulai sedikit demi sedikit membangun rumah. Saat kami sedang membangun pondasi rumah itulah, Chamelia dinyatakan hamil.

Bahkan, ketika pada masa kehamilan ada gejala akan ada masalah, kami sikapi dengan cepat-cepat bersedekah. Kelahiran pun akhirnya berjalan normal.
“Sampai sekarangpun kami masih belum percaya kami bisa membangun rumah sampai Rp 300juta, anak kami lahir sehat. Sekarang kami jadi ketagihan buat sedekah karena apa yang kami beri dibalas Allah SWT berlipat ganda diluar perkiraan kami,” tutur Chamelia tanpa bermaksud ria, tapi sekedar mengabarkan betapa besar nikmat Allah, yang bisa diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. [team daqu]

sumber: pppa


css.php